Diyakini atau Di Yakini: Penulisan yang Benar dalam Bahasa Indonesia – Dalam penggunaan bahasa Indonesia, kita sering menemukan perdebatan mengenai penulisan kata yang benar, misalnya antara “diyakini” atau “di yakini”. Walaupun terlihat sepele, penulisan kata yang tepat memiliki dampak besar pada kejelasan komunikasi, tata bahasa, dan tentu saja kepatuhan pada kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai perbedaan penulisan tersebut, aturan baku yang berlaku, serta contoh penerapannya dalam kalimat sehari-hari.
Pengertian Dasar Bentuk Kata Kerja Pasif dalam Bahasa Indonesia
Dalam bahasa Indonesia, terdapat bentuk kata kerja aktif dan kata kerja pasif. Kata kerja pasif biasanya ditandai dengan penggunaan awalan “di-” yang melekat pada kata dasar. Contohnya:
dibaca (bentuk pasif dari membaca)
ditulis (bentuk pasif dari menulis)
diyakini (bentuk pasif dari meyakini)
Dengan demikian, penggunaan “di-” yang dirangkai menjadi satu dengan kata dasar menunjukkan bahwa kata tersebut adalah kata kerja pasif.
Aturan Penulisan “di-” dalam Ejaan Bahasa Indonesia

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), penulisan kata dengan awalan “di-” harus digabung dengan kata dasarnya apabila berfungsi sebagai kata kerja pasif. Sementara itu, “di” yang berfungsi sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
Contoh “di-” sebagai awalan (harus digabung):
ditulis (bukan di tulis)
dimasak (bukan di masak)
diyakini (bukan di yakini)
Contoh “di” sebagai kata depan (harus dipisah):
di rumah
di sekolah
di meja belajar
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menuliskan kata kerja pasif secara terpisah, misalnya di yakini. Padahal, menurut aturan baku, bentuk yang benar adalah diyakini.
Mengapa “diyakini” yang Benar, Bukan “di yakini”?
Kata “meyakini” merupakan bentuk aktif dari kata dasar “yakin”. Jika kita ubah ke dalam bentuk pasif, maka akan menjadi “diyakini”. Karena “di-” dalam hal ini berfungsi sebagai awalan kata kerja pasif, maka penulisannya wajib digabung.
Sementara bentuk “di yakini” keliru karena menyalahi kaidah penulisan awalan dalam bahasa Indonesia. Dengan menuliskannya terpisah, artinya “di” seolah berfungsi sebagai kata depan, padahal bukan itu maksudnya.
Contoh Kalimat Penggunaan “Diyakini” dengan Benar
Agar lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh kalimat yang benar menggunakan kata “diyakini”:
Keberhasilan itu diyakini sebagai hasil kerja keras seluruh tim.
Tradisi ini diyakini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Kebenaran berita tersebut diyakini oleh sebagian masyarakat.
Doa yang tulus diyakini membawa ketenangan batin.
Strategi ini diyakini mampu meningkatkan penjualan.
Apabila kata tersebut ditulis sebagai “di yakini”, maka kalimat menjadi tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa.
Perbedaan Konteks Antara “diyakini” dan Kata Lain yang Menggunakan “di”
Untuk menghindari kebingungan, kita perlu memahami lebih dalam perbedaan penggunaan “diyakini” dengan contoh lain yang memang harus ditulis terpisah:
Salah: Keberhasilan itu di yakini oleh masyarakat.
Benar: Keberhasilan itu diyakini oleh masyarakat.
Benar (kata depan): Anak itu bermain di rumah.
Salah jika digabung: Anak itu bermain dirumah.
Dari contoh di atas terlihat jelas bahwa perbedaan makna terletak pada fungsi kata “di”.
Kesalahan Umum dalam Penulisan Kata dengan Awalan “di-”
Banyak penulis, termasuk di media sosial maupun karya tulis ilmiah, masih keliru dalam menuliskan kata berawalan “di-”. Berikut beberapa kesalahan umum:
Menulis di pisahkan alih-alih dipisahkan.
Menulis di kerjakan alih-alih dikerjakan.
Menulis di percayai alih-alih dipercayai.
Menulis di yakini alih-alih diyakini.
Kesalahan ini sering terjadi karena kurang memahami fungsi “di” sebagai kata depan dan awalan.
Tips Agar Tidak Salah Menulis “di-”
Untuk memastikan kita tidak salah menulis kata berawalan “di-”, ada beberapa tips sederhana:
Periksa fungsi kata. Jika kata tersebut adalah kata kerja pasif, maka “di-” harus digabung.
Ubah ke bentuk aktif. Jika kata aktifnya menggunakan “me-”, maka bentuk pasifnya pasti “di-”.
meyakini → diyakini
menulis → ditulis
memasak → dimasak
Tes dengan lokasi. Jika “di” menunjukkan tempat, maka ditulis terpisah.
di sekolah, di jalan, di pasar.
Dengan menerapkan tips ini, penulisan kata menjadi lebih konsisten sesuai aturan.
Pentingnya Penulisan yang Benar dalam Komunikasi
Penguasaan tata bahasa dan ejaan yang benar tidak hanya berlaku dalam dunia akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, bisnis, hingga komunikasi profesional. Penulisan yang salah, seperti “di yakini” alih-alih “diyakini”, bisa menurunkan kredibilitas tulisan.
Terutama dalam dunia digital, di mana artikel blog, konten media sosial, dan dokumen resmi sering menjadi wajah pertama kita di hadapan pembaca, penggunaan bahasa yang tepat akan meningkatkan kepercayaan dan profesionalisme.
Kesimpulan
Berdasarkan aturan resmi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), penulisan yang benar adalah “diyakini”, bukan “di yakini”. Hal ini karena “di-” dalam kata tersebut berfungsi sebagai awalan kata kerja pasif, sehingga wajib digabung dengan kata dasarnya.
Dengan memahami perbedaan fungsi “di-” sebagai awalan dan “di” sebagai kata depan, kita bisa menghindari kesalahan penulisan yang sering terjadi.
Penulisan yang benar bukan hanya soal kerapihan bahasa, melainkan juga bentuk penghargaan terhadap pembaca, kejelasan pesan, serta profesionalisme penulis.











